Membaca Peradaban, Memahami Identitas, Membangun Masa Depan
VISI PROGRAM
“Menjadikan setiap warga Indonesia sebagai literate citizen yang tidak hanya mampu membaca teks, tetapi juga ‘membaca’ warisan peradaban Nusantara—memahami bahasa budaya, filsafat lokal, dan kearifan tradisional sebagai fondasi berpikir kritis di era global.”
## KONSEP DASAR
Literasi Nusantara bukan sekadar membaca aksara. Ini adalah kompetensi multidimensional yang mencakup:
1. Literasi Budaya: Memahami simbol, nilai, dan praktik budaya
2. Literasi Sejarah: Membaca jejak peradaban dalam konteks kekinian
3. Literasi Ekologi: Memahami hubungan manusia-alam dalam kosmologi Nusantara
4. Literasi Digital-Kultural: Menggunakan teknologi untuk melestarikan dan menyebarkan kearifan
## EMPAT PILAR PROGRAM
### PILAR 1: SEKOLAH BAHASA BUDAYA NUSANTARA
Program Unggulan:
1. AKSARA NUSANTARA DIGITAL
– Platform pembelajaran 10 aksara tradisional (Jawa, Sunda, Bali, Bugis, dll)
– Aplikasi mobile dengan gamifikasi dan AR untuk belajar menulis
– Kompetisi tahunan “Menulis Surat dengan Aksara Nusantara”
2. BAHASA ISYARAT BUDAYA
– Dokumentasi dan pengajaran bahasa isyarat tradisional (seperti di komunitas tuli Bali)
– Integrasi isyarat budaya dalam pendidikan inklusif
3. KOSAKATA FALSAFAH LOKAL
– Kamus digital 1000+ kata filosofis dari berbagai bahasa daerah
– Kelas daring “Satu Kata, Satu Filsafat” setiap pekan
Target: 50.000 peserta dalam 3 tahun
### PILAR 2: PERPUSTAKAAN HIDUP NUSANTARA
Program Unggulan:
1. DIGITAL STORYTELLING ARCHIVE
– Kumpulan 500+ cerita rakyat dalam format audio, video, dan teks
– Platform kontribusi masyarakat dengan sistem verifikasi ahli
– Podcast serial “Dongeng sebelum Tidur dari Nusantara”
2. ORAL HISTORY BANK
– Pewawancaraan dengan 1000+ penjaga tradisi (tetua adat, dalang, empu)
– Transkripsi dan anotasi dengan teknologi speech-to-text lokal
– Program “Dengar Kisah, Simpan Sejarah” untuk relawan muda
3. COMMUNITY LIBRARY NETWORK
– 100 perpustakaan komunitas dengan koleksi spesifik lokal
– Sistem pertukaran koleksi antar daerah
– Pelatihan “Librarian 4.0” untuk pengelola perpustakaan
Target: 1 juta konten terarsip dalam 5 tahun
### PILAR 3: LABORATORIUM PEMBELAJARAN KULTURAL
Program Unggulan:
1. CULTURAL IMMERSION PROGRAM
– Program 2 minggu tinggal di komunitas adat untuk pelajar/mahasiswa
– Kurikulum “Belajar dengan Melakukan” bersama masyarakat lokal
– Sertifikasi kompetensi budaya untuk peserta
2. VIRTUAL REALITY NUSANTARA
– Pengembangan 50+ pengalaman VR menjelajahi situs budaya
– Aplikasi edukasi “Time Travel Nusantara” untuk sekolah
– Studio produksi konten VR di 5 kota budaya
3. MOBILE LEARNING UNIT
– 10 unit bus perpustakaan keliling dengan teknologi digital
– Program “Literasi Nusantara Goes to Border Areas”
– Workshop kreatif di daerah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal)
Target: 100.000 peserta langsung, 1 juta peserta virtual dalam 3 tahun
### PILAR 4: EKOSISTEM KREATOR KONTEN KULTURAL
Program Unggulan:
1. NUSANTARA CREATOR ACADEMY
– Pelatihan intensif untuk 500 kreator konten budaya per tahun
– Mentorship dari ahli budaya dan praktisi media
– Inkubator produksi konten edukasi budaya
2. CULTURAL CONTENT GRANT
– Hibah produksi untuk film pendek, dokumenter, podcast bertema budaya
– Kompetisi tahunan “Konten Kreatif Nusantara”
– Pasar hak cipta konten budaya digital
3. INFLUENCER HERITAGE NETWORK
– Jaringan 1000+ influencer yang fokus pada konten budaya
– Program “Brand Ambassador Budaya Lokal”
– Kolaborasi dengan platform digital untuk promosi konten
Target: 10.000 konten berkualitas terproduksi per tahun
## MODEL KURIKULUM INTEGRATIF
Tingkat Dasar (Usia 7-12 tahun):
– Modul 1: Mengenal Ragam Budaya Nusantara melalui Cerita
– Modul 2: Permainan Tradisional sebagai Media Belajar
– Modul 3: Bahasa Ibu dan Identitas Diri
– Metode: Storytelling, games, arts and crafts
Tingkat Menengah (Usia 13-18 tahun):
– Modul 1: Filsafat Lokal dalam Kehidupan Sehari-hari
– Modul 2: Membaca Jejak Sejarah di Lingkungan Sekitar
– Modul 3: Teknologi untuk Pelestarian Budaya
– Metode: Project-based learning, field research, digital production
Tingkat Lanjut (Dewasa & Profesional):
– Modul 1: Kearifan Lokal untuk Solusi Kontemporer
– Modul 2: Ekonomi Kreatif Berbasis Budaya
– Modul 3: Diplomasi Budaya di Era Digital
– Metode: Case studies, strategic planning, international networking
## TEKNOLOGI PENDUKUNG
Platform Digital:
1. Nusantara Literacy Hub – Portal utama dengan konten terkurasi
2. BasaBudaya App – Aplikasi mobile pembelajaran interaktif
3. Cultural API – Open API untuk pengembang aplikasi budaya
4. AR Cultural Marker – Penanda AR di situs budaya fisik
Alat Produksi:
1. Mobile Studio Kit – Perangkat produksi konten untuk komunitas
2. Digital Archiving Toolkit – Peralatan dokumentasi digital
3. Translation AI for Local Languages – Kecerdasan buatan penerjemah bahasa daerah
## STRATEGI IMPLEMENTASI
Fase 1: Foundation (Tahun 1-2)
– Pengembangan platform digital dan konten inti
– Pelatihan 1000 fasilitator literasi budaya
– Pilot project di 10 kota/kabupaten
– Kemitraan dengan 50 sekolah dan 10 perguruan tinggi
Fase 2: Expansion (Tahun 3-4)
– Skala nasional ke 100 kota/kabupaten
– Integrasi dengan kurikulum pendidikan formal
– Pengembangan jaringan internasional
– Sistem sertifikasi kompetensi literasi budaya
Fase 3: Sustainability (Tahun 5+)
– Model mandiri berbasis komunitas
– Ekosistem ekonomi kreatif budaya
– Pengaruh kebijakan nasional
– Reputasi global sebagai pusat literasi budaya
## INDIKATOR KEBERHASILAN
Output (3 tahun):
– 500.000 peserta terlibat dalam program
– 10.000 konten edukasi budaya terproduksi
– 100 komunitas literasi budaya terbentuk
– 50 produk teknologi budaya dikembangkan
Outcome (5 tahun):
– Peningkatan 40% kesadaran budaya di kalangan muda
– Peningkatan 30% penggunaan bahasa daerah di ruang publik
– Peningkatan 25% partisipasi dalam kegiatan budaya
– 10 kebijakan daerah yang mengadopsi program literasi budaya
Impact (10 tahun):
– Generasi muda Indonesia bangga dengan identitas budaya
– Warisan budaya menjadi living tradition yang relevan
– Indonesia menjadi referensi global literasi budaya
– Budaya sebagai sumber inovasi dan ekonomi berkelanjutan
## KEMITRAAN STRATEGIS
Pemerintah:
– Kemdikbudristek (kurikulum, pendidikan)
– Kemenparekraf (ekonomi kreatif)
– Kemendagri (implementasi daerah)
– Perpusnas (infrastruktur literasi)
Akademik & Budaya:
– Universitas dengan studi Nusantara
– Lembaga kebahasaan (Badan Bahasa)
– Museum dan pusat kebudayaan
– Organisasi adat dan budaya
Teknologi & Media:
– Platform digital (Google, Meta, GoTo)
– Media nasional dan lokal
– Startup teknologi edukasi
– Perusahaan telekomunikasi
Internasional:
– UNESCO (pendidikan budaya)
– SEAMEO (pendidikan regional)
– British Council, Goethe Institut (pertukaran budaya)
– Universitas global dengan studi Asia Tenggara
## SUSTAINABILITY MODEL
Pendanaan:
1. Government Funding (APBN/APBD untuk program strategis)
2. Corporate Partnership (CSR, sponsorship, co-branding)
3. Social Enterprise (penjualan produk, lisensi konten)
4. Grant & Donation (filantropi, crowdfunding)
5. International Funding (hibah, kerja sama pembangunan)
Model Bisnis:
1. B2G: Layanan untuk pemerintah (pelatihan, konsultasi)
2. B2B: Konten dan platform untuk korporasi
3. B2C: Produk edukasi untuk masyarakat umum
4. B2B2C: Kemitraan dengan platform edukasi existing
